Ketika pertama kali bermain sepak bola, saya ingin menghancurkan lawan-lawan saya. Saya ingat pernah mendengar kisah Daud dan Goliat di gereja dan menganggapnya sebagai tugas saya: tim lawan adalah Goliat, dan saya adalah Daud, yang ditugaskan untuk membawa kemenangan bagi tim saya.
Tetapi saya menyadari bahwa ini tidak benar. Goliat yang ingin saya kalahkan bukanlah lawan saya. Malahan, harapan saya adalah agar lawan saya mengenal Yesus seperti saya.
Menjadi bagian dari Kerajaan Yesus berarti kita hidup dengan nilai-nilai yang lebih tinggi.
Tentu saja, setiap atlet ingin bermain sebaik mungkin dan menang. Tetapi bagi saya, tim lawan bukanlah musuh. Lawan adalah seseorang yang akan membantu saya berkembang.
Meskipun dunia olahraga sering kali menganggap lawan sebagai musuh, melihat mereka sebagai kesempatan untuk menantang dan membantu saya berkembang justru memberi saya kebebasan dan kepercayaan diri, karena saya tahu bahwa jika saya menang, saya bisa bahagia, dan jika saya kalah, saya telah belajar sesuatu. Seandainya ada orang percaya di tim lawan, kita adalah saudara, dan bersama-sama, kita bisa merayakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sepak bola.
Kemenangan sejati tidak ditentukan oleh papan skor, tetapi ditemukan dalam seberapa besar kita mengasihi.
Ketika kita mengasihi dengan baik, kita memuliakan Tuhan. Kita menjadikan orang-orang di sekitar kita lebih baik. Pengaruh kita meluas melampaui lapangan dan kekal. Bertindak baik menyenangkan orang banyak; mengasihi dengan baik menyenangkan Bapa kita di surga. Sebagai orang-orang milik Kristus, kita tidak membenci musuh kita, tetapi memimpin dengan kasih, mengupayakan agar mereka juga dapat mengenal Yesus yang kita kenal.
Tantangan
Bagaimana Anda memandang lawan Anda di lapangan? Sebagai Goliat pribadi Anda atau sebagai seseorang yang dikasihi Tuhan?
Siapa yang ingin Anda senangkan? Pelatih Anda, orang banyak, atau Sang Raja?
Apa satu cara Anda dapat menunjukkan kasih Tuhan kepada lawan?
Doa
Bapa, tolonglah kami untuk memandang lawan kami melalui lensa kasih-Mu. Selagi kami berlomba-lomba memuliakan-Mu, bantulah kami untuk tetap berfokus pada kemenangan sejati, bukan pada hasilnya, melainkan pada cara kami membawa diri dan mengasihi orang-orang di sekitar kami. Kami mohon agar Engkau menjadikan kami teladan untuk mengarahkan orang lain kepada-Mu agar mereka juga dapat mengenal Yesus. Dalam nama-Mu kami berdoa, amin.
← Berada di Tim yang Tepat | Bermain dengan Percaya Diri: Tanpa Malu →