Anda mungkin terkejut mendengar hal ini dari seorang pesepak bola profesional — sepak bola bukanlah minat utama saya saat tumbuh dewasa. Saya lebih suka menari, karate, melukis, atau menggambar. Saya selalu berprestasi di kelas. Namun, ketika saya mulai sekolah menengah, saya pindah ke kota baru. Dan semua orang di kota itu bermain sepak bola.
Awalnya, saya bergabung agar tidak tersisih. Bermain sepak bola memberi saya teman-teman yang sangat dibutuhkan di lingkungan baru saya. Tak lama kemudian, orang-orang mengatakan saya jago, jadi saya bermain karena saya senang mendengar pujian mereka. Semakin baik penampilan saya di lapangan, semakin populer saya, dan saya bermain agar saya merasa penting.
Saya bermain sepak bola karena saya ingin membuat orang lain terkesan atau merasa sukses. Seiring waktu, saya merasa kebanyakan orang menyukai saya hanya karena saya jago bermain sepak bola. Selalu ada sesuatu yang perlu saya lakukan agar merasa diterima.
Kegagalan di kelas memaksa saya pindah ke kota baru untuk fokus pada sekolah. Di sana, saya terputus dari semua yang saya ketahui. Namun dalam perpindahan itu, saya mendengar Injil untuk pertama kalinya. Pesan Yesus membuka hati saya kepada jenis kasih dan penerimaan yang berbeda.
Saya mulai memahami bahwa kasih Allah tidak diperoleh dengan usaha—kasih itu sudah menjadi milik saya, bahkan ketika saya tidak memiliki apa pun untuk diberikan. Dia menerima saya apa adanya. Ketika saya menaruh kepercayaan saya kepada Yesus, saya merasakan validasi dan penerimaan. Ini jauh melebihi apa pun yang saya rasakan dari bermain sepak bola. Keselamatan saya mengisi kekosongan yang tak pernah bisa diisi oleh prestasi.
Setelah itu, saya ingin berbagi pengalaman saya dengan orang lain. Saya pergi dari rumah ke rumah, memberi tahu orang-orang tentang Yesus. Saya menceritakan kisah saya kepada orang-orang di kelas, di taksi, dan di bus—saya ingin orang lain mengenal Yesus. Kasih-Nya begitu baik, begitu menebus. Saya tahu saya tidak bisa menyimpannya untuk diri saya sendiri.
Hidup saya dipenuhi dengan tujuan baru—untuk membagikan Yesus yang saya kenal kepada semua orang yang saya bisa. Ini bukan tentang saya, dan ini bukan tentang apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Saya didorong oleh keinginan yang jauh lebih besar dari itu. Ambisi saya adalah tentang Kerajaan Allah. Saya ingin melakukan pekerjaan yang tidak hanya memuaskan saya di bumi, tetapi juga berdampak selamanya.
Tantangan
Luangkan waktu untuk berdoa. Biarkan pertanyaan ini membimbing Anda: "Tuhan menciptakan saya untuk menjadi siapa?"
Setelah Anda merasa yakin akan diri Anda di dalam Kristus, mulailah merenungkan pertanyaan ini: "Apa yang Tuhan rancangkan untuk saya lakukan?"
Doa
Bapa, terima kasih karena Engkau mengasihi dan menerima saya, bukan karena apa yang telah saya lakukan, tetapi karena apa yang Yesus lakukan bagi saya di kayu salib. Kiranya Engkau membangkitkan dalam hati saya tujuan baru — untuk membagikan kasih-Mu kepada sesama. Penuhi saya dengan keinginan untuk menjadi wadah-Mu di bumi ini, agar dunia dapat mengalami kuasa transformasi kasih karunia-Mu. Dalam nama Yesus, Amin.
Siapakah Kami
Jika Anda bertanya-tanya apa arti sebenarnya menjadi milik Yesus—mengenal-Nya secara pribadi dan mengalami kasih serta tujuan yang dibicarakan Eyong—kami di Athletes in Action ingin membantu Anda mengambil langkah selanjutnya. Klik di sini untuk memulai perjalanan Anda menemukan siapa Yesus dan bagaimana Anda dapat memiliki hubungan dengan-Nya.